Senin, 15 September 2025 - 15:02:47 WIB

Sekolah HighScope Indonesia Terapkan Kurikulum Berbasis AS, Lulusan Siap Masuk Dunia Kerja

Penulis : admin
Kategori: DIDAKTIKA - Dibaca: 978 kali


Dunia pendidikan, termasuk di Indonesia tidak selalu mengikuti perkembangan zaman. Kualitas pengajar tidak selalu berbanding lurus dengan kematangan siswa dalam menerima pelajaran, sehingga ketika lulus, kualitas sumber daya manusia (SDM) di dalam dunia kerja pun bisa tidak sesuai dengan ekspektasi perusahaan.

Idealnya, pendidikan diberikan sesuai dengan tingkat kesiapan siswa. Guru dan pengajar tak sekadar memiliki pengetahuan, tapi juga memahami siswa secara holistik sepanjang masa pendidikannya. Tidak hanya fokus kepada pencapaian nilai, namun juga dalam keterampilan hidup seperti komunikasi, kolaborasi, dan berpikir secara kritis, sehingga siswa berkembang secara seimbang, dan siap menghadapi dunia kerja kelak.

Tak banyak lembaga pendidikan Indonesia yang menerapkan prinsip-prinsip di atas, namun Sekolah HighScope Indonesia menjadi pelopor yang menerapkan hal tersebut.

Sekolah HighScope Indonesia menerapkan kurikulum berbasis Amerika Serikat & Real World Focus, yang dikembangkan oleh Research & Development for Advancement (Redea) Institute dan menjalin kemitraan baru dengan Center for Excellence di New Technology High School di Napa, California, yang merupakan sekolah unggulan dari New Tech Networks.

Redea Institute juga bermitra dengan PEN Worldwide, yaitu sebuah organisasi nirlaba dari Jerman dengan metodologi praktis dalam membangun wirausahawan masa depan. Kemitraan ini membekali siswa Sekolah HighScope Indonesia dengan keterampilan bisnis praktis untuk menciptakan lapangan kerja baru.

Di usianya yang menjelang 29 tahun ini, Sekolah HighScope Indonesia menerapkan berbagai inovasi terkait pengembangan kualitas pendidikan secara holistik, yang mencakup seluruh aspek kebutuhan pembelajar: lingkungan, suasana, penilaian, strategi, aktivitas, dan dukungan.

“Tidak semua bunga harus berwarna merah, karena setiap anak berbeda dalam karakter dan kemampuan akademiknya. Saya percaya, sistem pendidikan seharusnya tidak hanya fokus pada performa, tetapi juga pada karakter dan nilai-nilai anak," ujar Founder & CEO Redea Institute & HighScope Indonesia Institute, Antarina S.F Amir.

* Belajar Berbagai Keterampilan

Sekolah HighScope Indonesia mengutamakan agar siswa memiliki kesempatan untuk mempelajari berbagai keterampilan esensial hidup. Hal ini diungkapkan Shakira Ashana Ramadhani Aziz, yang merupakan alumni Sekolah HighScope Indonesia angkatan 2020, yang telah melanjutkan pendidikan tinggi di Universitas Indonesia dan University of Queensland, Australia. Materi-materi pembelajaran yang didapatnya dari Sekolah HighScope Indonesia, diakuinya sangat membantunya saat duduk di tingkat universitas.

"Sebagai contoh, selama di universitas, saya harus mempresentasikan berbagai topik di depan teman sebaya dan dosen. Hampir setiap mata kuliah yang saya ambil meminta saya untuk mempresentasikan sesuatu. Dengan memiliki keterampilan presentasi yang saya pelajari di Sekolah HighScope Indonesia, rasanya sangat mudah. Saya bahkan terkadang memberikan saran kepada teman teman saya tentang cara mereka dapat mempresentasikan proyek mereka," kata Shakira.

Menurutnya, materi-materi pendidikan yang didapatnya di Sekolah HighScope Indonesia akan berguna ketika melanjutkan ke tingkat universitas hingga dunia kerja.

"Seiring waktu, keterampilan tersebut menjadi kebiasaan, sehingga membantu siswa menjadi lebih efektif dan percaya diri dalam berbicara di depan umum,” tambahnya.

** Lingkungan Sekolah yang Demokratis

Alumni lain yang memiliki kesan tak terlupakan bersekolah di Sekolah HighScope Indonesia adalah Muhammad Ridho. Alumnus angkatan 2019, yang melanjutkan kuliah di ITB mengatakan, Sekolah HighScope Indonesia sangat mirip dengan sekolahnya dulu di Texas, Amerika Serikat.

"Semua orang sangat terbuka, murid-muridnya ramah, guru-gurunya juga sangat baik dan terbuka. Sebagai murid baru yang tidak terbiasa dengan kurikulum di Indonesia, Sekolah ini sangat membantu dan membuat saya seperti di rumah," katanya.

Ada pengalaman yang paling berkesan ketika Muhammad Ridho menempuh pendidikannya di Sekolah HighScope Indonesia, yaitu ketika ikut kelas Virtual Enterprise (VE).

"Kelas itu mengajari saya bagaimana dunia kerja beroperasi. Dari pengalaman itu, saya belajar banyak. Jadi saat lulus dari SMA, saya tidak terkejut dengan keadaan di dunia nyata, dan itu sangat membantu saya menjadi diri saya yang sekarang," katanya.

"Pelajaran terpenting yang saya dapat dari Sekolah HighScope Indonesia adalah untuk memiliki pemikiran yang terbuka, berpikir secara kritis, menyambut setiap kesempatan yang datang, dan memanfaatkan kesempatan itu sebaik-baiknya. SMA Sekolah HighScope Indonesia adalah sekolah yang memberikan para siswa berbagai kesempatan untuk belajar, dan kami dapat memilih banyak kelas yang berbeda. Saya memanfaatkan kesempatan itu dan untuk menantang diri saya. Itu adalah hal terpenting yang saya pelajari di Sekolah HighScope Indonesia," ujar lulusan ITB tahun 2023, yang kini bekerja di perusahaan migas sebagai Field Engineer.

Muhammad Ridho juga menambahkan, kelas Advanced Placement (AP) Calculus dan AP Physics di Sekolah HighScope Indonesia sangat membantunya, karena di ITB, pelajaran Fisika dan Kalkulus sangat sulit. Ia berpesan kepada calon-calon adik kelasnya, jika berencana untuk mengambil jurusan Teknik, sebaiknya mereka mengambil kelas-kelas itu.

Sekolah HighScope Indonesia sendiri berdiri sejak tahun 1996, yang awalnya berlokasi di Pondok Indah. Sekolah ini telah berkembang pesat, mulai dari jenjang Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) hingga memiliki SD, SMP, dan SMA. Saat ini, lebih dari 1.000 alumni telah lulus dan diterima di 351 universitas di 21 negara. Dengan lebih dari 4.000 siswa di 15 lokasi sekolah di seluruh Indonesia, Sekolah HighScope Indonesia terus membentuk pola pikir dan karakter, sekaligus membekali keterampilan hidup untuk menghadapi tantangan masa kini dan masa depan, sehingga siswa mampu menjadi pengambil keputusan yang mandiri.