Selasa, 19 Juli 2016 - 09:57:15 WIB

Laksda Siwi Sukma Adji Resmi Jabat Panglima Koarmabar

Penulis : Redaksi
Kategori: METROPOLITAN - Dibaca: 580 kali


Raja.com-- Laksamana Muda TNI Siwi Sukma Adji, SE., MM resmi menjabat sebagai Panglima Komando Armada RI Kawasan Barat (Pangarmabar) menggantikan Laksamana Muda TNI A. Taufiq R. Serah Terima Jabatan dipimpin langsung oleh Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal) Laksamana TNI Ade Supandi SE., M.A.P, di Lapangan Arafuru Mako Koarmabar, Jakarta, Selasa (19/7).

Laksamana Muda TNI A. Taufiq R . adalah lulusan AAL Tahun 1985 Angkatan XXX, merupakan Pejabat Pangarmabar yang ke-30, selanjutnya menjabat ASisten Perencanaan dan Anggaran Kasal (Asrena Kasal) Sedangkan penggantinya Laksamana Muda TNI Siwi Sukma Adji S E, M M, merupakan Alumni AAL Tahun 1985 Angkatan XXX Sebelum menjabat Pangarmabar berdinas sebagai Tenaga Ahli Pengkaji Bidang Sumber Kekayaan Alam, Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas).

Dalam amanatnya, Kasal mengatakan bahwa sebagai Kotama pembinaan, Koarmabar bertugas untuk membina kemampuan Sistem Senjata Armada Terpadu dan membina potensi maritim menjadi kekuatan pertahanan negara di laut. Sedangkan sebagai Kotama operasional, Koarmabar melaksanakan tugas operasi laut sehari-hari dan operasi tempur laut, serta proyeksi kekuatan ke darat dalam rangka penegakan kedaulatan dan hukum di laut. Terlebih wilayah kerja Koarmabar sangat strategis karena memiliki kekayaan potensi sumberdaya maritim dan terletak di jalur pelayaran internasional. Hal ini menimbulkan berbagai ancaman faktual seperti illegal fishing, perompakan, pembajakan, kecelakaan laut dan pencemaran lingkungan.

Menurut Kasal, Koarmabar telah menunjukkan tingkat profesionalitas dan performa terbaiknya dalam berbagai latihan dan operasi. Kesuksesan penyelenggaraan tiga event internasional dalam Multilateral Naval Exercise Komodo 2016 dan penanganan berbagai kasus illegal fishing, penyelundupan dan perompakan di laut telah berhasil dilaksanakan.

"Ini menjadi kebanggaan kita bersama. Bahkan hal tersebut mendapat pengakuan internasional, diantaranya oleh international maritime bureau (IMB) dan international maritime organization (IMO) melalui laporan tahunan perompakan dan pembajakan yang menunjukkan keberhasilan dalam menekan angka pelanggaran di laut mendekati nol. Hal ini dicapai dengan inovasi dan terobosan Koarmabar yaitu memaksimalkan satuan kewilayahan dengan dibentuknya western fleet quick response (WFQR) di setiap Lantamal Koarmabar", kata Kasal.

Wilayah kerja Armada Rl Kawasan Barat dan Armada RI Kawasan Timur dibagi oleh garis imajiner ditarik dari titik batas Jawa Barat dan Jawa Tengah di Pantai Utara pada koordinat 06-47-50 S 108-50-30 T (Muara Sungai Losari). sampai titik batas Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah pada koordinat 03-00-00 U (Muara Jelai) serta titik batas antara Jawa Barat dan Jawa Tengah pada koordinat 70-42-00 S 108-43-00 (Muara Sungai Citandui) ditarik kearah Selatan (180).

Koarmabar selaku Komando Utama Operasi mempunyai tugas menyelenggarakan operasi intelijen maritim guna mendukung pelaksanaan operasi laut, menyelenggarakan operasi tempur laut dalam rangka Operasi Militer Untuk Perang (OMP) baik operasi gabungan maupun mandiri menyelenggarakan Operasi Militer Selain Perang (OMSP) baik berupa operasi laut sehari-hari maupun operasi keamanan laut di wilayahnya sesuai dengan kebijakan Panglima TNI. Selaku Kotama Pembinaan Koarmabar mempunyai tugas membina kemampuan dan kekuatan komponen Sistem Senjata Armada Terpadu (SSAT) membina kemampuan peperangan laut membina kesiapan operasional untuk melaksanakan OMP dan OMSP dalam rangka pengendalian laut serta proyeksi kekuatan ke darat lewat laut dalam rangka penegakan kedaulatan dan hukum di laut sesuai kebijakan Panglima TNI serta membina potensi maritim menjadi kekuatan pertahanan dan keamanan negara di laut yang berkedudukan di bawah dan bertanggung jawab kepada Kasal.

Koarmabar di bawah kepemimpinan Laksamana Muda TNl A Taufiq R dapat menurunkan angka kriminalitas secara Signifikan di sekitar Selat Malaka Selat Philipina dan Laut China Selatan. Hal tersebut didukung dengan keberadaan unit satuan khusus Western Fleet Quick Response/WFQR yang tersebar diseluruh satuan kewenangan Koarmabar Pembentukan WFQR itu sendiri didasarkan agar unsur-unsur Koarmabar dapat hadir pada waktu dan posisi yang tepat untuk menindak kejahatan di laut dengan memberdayakan aset-aset Koarmabar yang mempunyai tungsi kekamlaan WFQR berkedudukan di Lantamal dan Lanal jajaran Koarmabar yang berada di bawah Komando Pengendali (Kodal) Pangarmabar Selain itu keberadaan WFQR juga untuk merespon dengan cepat informasi yang diterima melaIUi masyarakat ataupun informasi intelejen mengenai kejadian-kejadian yang terjadi di laut baik berupa perompakan atau kegiatan ilegal lainnya yang dapat menggangu keamanan pengguna laut khususnya yang melintas di wilayah kerja Koarmabar.

Keberhasnan WFQR dalam mengatasi dan menindak pelaku kejahatan perompakan di Selat Malaka telah mendapatkan apresiasi yang positif dari negara negara Asia Tenggara dalam mengatasi dan menindak pelaku kejahatan perombakan di Selat Malaka. Selain itu apresiasi juga diberikan dan beberapa InstanSi Pemerintahan diantaranya Kementerian Kelautan dan Perikanan. serta Kementerian Perhubungan Seiring dengan perjalanan waktu WFQR juga melakukan kegiatan prefentif dalam bentuk sosialisasi dan pressuring kepada masyarakat pesisir, dalam rangka pemberdayaan serta memberikan pemahaman tentang hukum batas Wilayah pelestarian lingkungan dan navigasi sehingga bisa mencegah terjadinya kegiatan ilegal di laut sekaligus memberikan kesejahteraan kepada masyarakat pesisir.

Masih adanya tindakan illegal fishing yang terjadi saat ini menjadi tantangan bagi Koarmabar dalam menjaga sumber kekayaan dari tindak kejahatan sekaligus men/aga martabat dan kehormatan bangsa. Adanya Western Fleet Quick Response (WFQR) di Koarmabar sangat mendukung upaya penindakan pelanggaran di Wilayah kerja Koarmabar sehingga Selat Malaka yang terkenal "the most dangerous street of the world" bagi para pelaut, dijadikan menjadi "zero" kejahatan WFQR dalam melaksanakan tugasnya selalu berkoordinasi dengan angkatan laut negara tetangga untuk menjaga stabilitas keamanan, sehingga berdampak pada menurunnya tindak kejahatan di Perairan Barat Indonesia, khususnya Selat Malaka dan Selat Singapura. (BUD)