Kamis, 01 November 2018 - 18:31:03 WIB

Prioritaskan Kanker untuk Perbaiki Kesintasan

Penulis : Redaksi
Kategori: RAGAM BERITA - Dibaca: 207 kali


Konferensi tahunan Indonesia National Health Conference (InaHEA) 2018 yang dihadiri lebih dari 300 peserta dari kalangan akademisi, praktisi, dan peneliti di bidang ekonomi kesehatan di tingkat nasional dan internasional mengusung topik “Apakah JKN memperbaiki kesintasan kanker di Indonesia?” Sesi pleno ini akan berupaya untuk menjawab pertanyaan bagaimana kanker sebagai salah satu penyakit katastropik yang berdampak terhadap perubahan sosial ekonomi masyarakat dapat menjadi prioritas di dalam program JKN.

dr. Andi Nafsiah Walinono Mboi, SpA, MPH, dari Indonesian Center for Strategic and International Studies (CSIS) menyampaikan “Selama 27 tahun terakhir sejak tahun 1990 sampai 2016, indikator kesehatan di Indonesia mengalami perbaikan yang sangat signifikan. Namun perbaikan tersebut tidak merata di semua indikator. Saat ini Indonesia mengalami transisi dalam epidemiologi penyakit, ditandai dengan masih tingginya prevalensi penyakit menular, dan pada saat yang sama penyakit tidak menular seperti
kardiovaskular dan kanker juga sedang meningkat.”

Kanker merupakan penyebab kematian nomor 2 di dunia sebesar 13% setelah penyakit kardiovaskular. Di Indonesia, berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013, prevalensi tumor/kanker di Indonesia adalah 1,4 per 1000 penduduk, atau sekitar 330.000 orang.

1 Menurut data GLOBOCAN 2018, diperkirakan terdapat 348.809 insiden kanker dan 207.210 kematian akibat kanker di Indonesia, dimana angka insiden tersebut diperkirakan akan meningkat hingga 36% di tahun 2030.

2 Sementara dari sisi sosial ekonomi, studi ASEAN Costs in Oncology (ACTION) tahun 2015 yang dilakukan di 8 negara di kawasan asia tenggara termasuk di Indonesia disimpulkan bahwa diagnosis kanker berpotensi menimbulkan malapetaka, dengan lebih dari 75% pasien mengalami kematian atau bencana keuangan dalam satu tahun.

3 Prof. Budi Hidayat,SKM, MPPM, PhD., dari Center for Health Economics and Policy Studies (CHEPS), mengatakan, ”Biaya pengobatan untuk penyakit degeneratif seperti kanker merupakan penyebab kemiskinan di negara-negara di kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Kanker merupakan masalah kesehatan besar yang berdampak buruk terhadap kehidupan pasien secara sosial dan ekonomi. Oleh karena itu sepatutnya kanker menjadi prioritas dan dilihat sebagai isu nasional yang tidak hanya terbatas pada kesehatan, namun lintas sektor yang mempengaruhi kondisi sosial dan ekonomi.”

Upaya optimalisasi layanan kesehatan kanker di dalam program JKN perlu didukung oleh kebijakan kesehatan yang dapat memastikan tersedianya akses yang setara, tepat waktu dan terjangkau untuk pasien. Untuk itu diperlukan adanya fungsi maksimal dalam perencanaan pengendalian kanker nasional dengan pelibatan seluruh pemangku kepentingan serta optimalisasi dalam alokasi investasi dan upaya pembiayaan bersama.

Penyintas kanker dan pendiri Cancer Information and Support Center (CISC), Aryanthi Baramuli Putri, SH, MH, menyampaikan penghargaan kepada Kementerian Kesehatan yang mulai melibatkan organisasi pasien dalam diskusi terkait kebijakan kesehatan dan berharap pelayanan kanker menjadi prioritas dan standar pelayanannya lebih dioptimalkan, “Meskipun pelayanan kesehatan untuk kanker telah menjadi bagian dari manfaat JKN, namun kami masih menemui situasi dimana pasien kesulitan untuk mengakses obat dan belum mendapat perawatan kanker yang optimal, sehingga kelangsungan hidup terpengaruh dan beban sosial ekonomi pasien menjadi meningkat.”

Prastuti Soewondo, S.E., MPH., Ph.D, dari Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K) mengatakan, “Roadmap JKN yang menargetkan seluruh penduduk terlindungi dalam program jaminan kesehatan perlu didukung dengan investasi yang lebih baik agar dapat mewujudkan program kesehatan yang pro-poor. Untuk itu, perlu adanya perencanaan strategis agar pencapaian kuantitas jumlah penduduk yang terlindungi juga diimbangi dengan kualitas layanan kesehatan, termasuk juga untuk penanganan penyakit katastropik seperti kanker yang dampaknya sangat fatal baik bagi kesintasan, kualitas hidup, produktivitas dan ekonomi masyarakat.”