Jumat, 12 Oktober 2018 - 05:44:12 WIB

BKPM-HSBC Infrastructure Forum Dorong Pembangunan Infrastruktur Nasional

Penulis : Redaksi
Kategori: EKONOMI DAN BISNIS - Dibaca: 233 kali


Dalam rangka mendorong pembangunan proyek infrastruktur di Indonesia untuk merealisasikan visi Pemerintahan Indonesia sebagai negara ekonomi terbesar ke-4 di dunia pada tahun 2045, Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) bekerjasama dengan PT Bank HSBC Indonesia menyelenggarakan Infrastructure Forum sebagai bagian dari Parallel Events IMF-WB Annual Meetings (AM) 2018 di Ayana Hotel & Resorts, Jimbaran, Bali. Forum ini menjadi wadah bagi para investor untuk berkomunikasi dengan Pemerintah terkait berbagai peluang investasi infrastruktur di Indonesia. Acara ini dihadiri oleh lebih dari 400 peserta yang terdiri dari investor, corporate banking clients, private banking consumers dan fund management companies.

BKPM-HSBC Infrastructure Forum panel pertama berjudul "Towards Indonesia 2045" yang menghadirkan Deputi Gubernur Bank Indonesia Sugeng, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK Hoesen serta Ekonom dan Mantan Menteri Keuangan Chatib Basri. Dilanjutkan dengan panel kedua berjudul "Realising Indonesias Growth Ambition" yang menghadirkan Presiden Direktur Pelindo II Elvyn G. Masassya, Head of Infrastructure Advisory Global Transport and Logistic Industry Leader Price Waterhouse Coopers Indonesia Julian Smith, Direktur Pengembangan Proyek dan Jasa Konsultasi PT Sarana Multi Infrastruktur Darwin Trisna Djajawinata dan Chief Financial Official Power China International Ltd. Tianfu Yang.

Selain sesi panel, juga ada High Tea Event pada Infrastructure Forum antara Kepala BKPM dengan sepuluh perusahaan dari berbagai negara, seperti China, Hongkong, Belanda dan Malaysia dengan nilai investasi mencapai USD 31,4 miliar untuk sektor infrastruktur yang meliputi bidang power plant, pelabuhan, konstruksi dan logistik.

Kepala BKPM menjelaskan bahwa sebagaimana arahan Bapak Presiden Jokowi, diperlukan konsolidasi dan koordinasi yang kuat antara moneter, fiskal dan dunia usaha untuk mewujudkan pembangunan nasional. “Infrastructure Forum ini merupakan forum komunikasi antara Pemerintah dengan para investor dalam dan luar negeri, baik di sektor infrastruktur maupun keuangan dan lembaga perbankan, mengenai peluang pengembangan sektor infrastruktur di Indonesia serta perkembangan-perkembangan terkini dalam skema pendanaan infrastruktur,” jelas Kepala BKPM Thomas Lembong.

Sebagaimana diketahui, Indonesia baru saja diterpa berbagai musibah bencana alam yang terjadi di NTB dan Sulawesi Tengah. Mayoritas infrastruktur vital di daerah-daerah tersebut, termasuk diantaranya bandara, gardu listrik, pelabuhan dan menara telekomunikasi, mengalami kerusakan yang cukup parah. Dari hal tersebut, Kepala BKPM menyampaikan pentingnya pembangunan infrastruktur yang mengedepankan aspek "disaster preparedness".

“Kiranya forum ini dapat kita optimalkan untuk mendiskuksikan strategi mewujudkan pembangunan infrastruktur yang lebih baik dan tahan dari terpaan bencana. Selain itu, dari segi financial, bagaimana penerapan manajemen risiko bencana dan inovasi-inovasi finansial lainnya yang dapat diterapkan untuk kesiapan menghadapi bencana,” ucap Lembong.
Melihat kebutuhan sektor swasta untuk berperan lebih demi merealisasikan pembangunan proyek infrastruktur Indonesia, Deputy Chairman and Chief Executive HSBC Asia Pacific Peter Wong menuturkan dalam pidato pembukanya terkait potensi yang dimiliki oleh Indonesia dan harapannya untuk memperkenalkan ke kancah dunia.

“Tidak hanya besar di jumlah populasi penduduk, namun Indonesia juga memiliki banyak sekali potensi yang siap digali dan dimanfaatkan. Namun, diperlukannya penghubung yang baik secara fisik, ekonomi, dan pembiayaannya. Dengan kata lain, infrastruktur adalah kuncinya,” ucap Wong.

Presiden Direktur PT Bank HSBC Indonesia Sumit Dutta berperan serta dalam menghubungkan nasabah global HSBC untuk turut ambil bagian dalam pembangunan infrastruktur Indonesia. “Dalam rangka realisasi rancangan pembangunan infrastruktur Indonesia, pemerintah dan pihak swasta membutuhkan skema pembiayaan yang baik dan solutif demi menunjang keberlanjutan pembangunan proyek infrastruktur di masa mendatang, salah satunya adalah melalui investasi di proyek pembangunan infrastruktur ini,” jelas Sumit Dutta.

Dari data Asian Development Bank tercatat, estimasi kebutuhan investasi infrastruktur Asia dari tahun 2016-2030 tercatat USD 22,6 triliun atau sekitar USD 1,5 triliun per tahun. Dengan memperhitungkan mitigasi bencana dan adaptasi kenaikan biaya investasi yang dibutuhkan meningkat menjadi USD 26,2 triliun atau USD 1,7 triliun per tahun. Untuk Asia Tenggara, dalam periode 2016-2030 tersebut membutuhkan investasi infrastruktur sebesar USD 2,7 triliun dan dengan memperhitungkan mitigasi bencana dan adaptasi kenaikan bencana menjadi sebesar USD 3,1 triliun.