Selasa, 11 September 2018 - 06:36:01 WIB

Kunjungan Presiden Jokowi ke Korsel Hasilkan Kesepakatan Bisnis USD 6,2 M

Penulis : Redaksi
Kategori: EKONOMI DAN BISNIS - Dibaca: 201 kali


Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) merilis kesepakatan bisnis yang merupakan hasil dari kunjungan Presiden RI Joko Widodo ke Korea Selatan senilai USD 6,2 miliar (setara dengan Rp 81,7 triliun dengan asumsi kurs APBN 2018 Rp 13.400 per dolar AS). Kunjungan yang dilakukan Presiden Jokowi juga merupakan kunjungan balasan dari kunjungan Presiden Korea Selatan Moon Jae-in ke Indonesia November tahun lalu.

Turut hadir mendampingi Presiden Jokowi adalah Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Wiranto, Menteri Sekretaris Kabinet Pramono Anung, Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto, Menteri Pemberdayaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Syafrudin, Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal Thomas Lembong, Kepala Badan Ekonomi Kreatif Triawan Munaf, Ketua Umum Kadin Indonesia Rosan P. Roslani dan Wakil Ketua Kadin Shinta Kamdani.

Beberapa agenda dalam kunjungan ini, antara lain melakukan one-on-one meeting dengan beberapa perusahaan strategis Korea Selatan, menghadiri pertemuan Business Forum dengan asosiasi dan perusahaan-perusahaan Korea Selatan, serta melakukan kunjungan kenegaraan dengan Presiden Moon Jae-In di Istana Kepresidenan Korea Selatan dan memberikan kuliah umum di Hankuk University of Foreign Studies dan pertemuan dengan generasi muda Korea Selatan pecinta Indonesia dan generasi muda Indonesia di Korea Selatan.

Kepala BKPM Thomas Trikasih Lembong menyampaikan bahwa kunjungan Presiden Jokowi kali ini juga dimaknai dengan penandatanganan 15 nota kesepahaman dan enam komitmen investasi yang sifatnya business to business antara private sector Indonesia dan Korea Selatan, serta satu nota kesepahaman antara BKPM dengan Hyundai Motor Company. ”Dengan ditandatanganinya 15 nota kesepahaman dan enam komitmen investasi tersebut diharapkan sentimen pelaku usaha luar terhadap pasar nasional dapat menjadi lebih baik", ujarnya dalam keterangan resmi kepada pers, Senin (10/9).

Kepala BKPM juga menyambut baik upaya-upaya untuk meningkatkan kerjasama dan investasi Korea Selatan pada sektor-sektor industri utama dan otomotif. “Tentu saja hal ini harus direspon secara positif, apalagi kerjasama-kerjasama tersebut dapat membidik pasar ASEAN dan Australia. Hal ini harus kita manfaatkan ditambah lagi Indonesia akan punya Free Trade Agreement (FTA) dengan Australia,” lanjutnya.

Kerjasama Korea Selatan dan Indonesia khususnya di sektor otomotif diharapkan dapat mendukung masterplan industri otomotif di Indonesia dan dapat menumbuhkan industri komponen dan supply chain-nya di dalam negeri. “Yang paling penting itu adalah meyakinkan investor bahwa Indonesia adalah tempat yang nyaman untuk berinvestasi. Kebanyakan negara yang ekonominya sedang terpuruk, karena tidak bisa menjaga sentimen pasar atau pelaku usaha,” imbuh Thomas.

Kunjungan Presiden Jokowi salah satunya dilakukan melalui kegiatan Business Forum ”Indonesia-Korea Business and Investment Forum 2018: Enhancing Industrial Cooperation”. Pada kesempatan tersebut Presiden menyampaikan beberapa hal dalam rangka penguatan kerjasama ekonomi antara Indonesia dan Korea khususnya di bidang kerjasama industri manufaktur dan mengundang pelaku usaha Korea untuk berpartisipasi dalam program ”Making Indonesia 4.0” yang merupakan visi industri di Indonesia yang akan merangkul perubahan-perubahan yang terjadi dalam revolusi industri. Selain itu, Presiden juga mengajak pelaku usaha Korea untuk memanfaatkan potensi besar Indonesia di sektor pariwisata, lifestyle industry dan industri kreatif.