Jumat, 10 Agustus 2018 - 15:20:31 WIB

Tayang 27 September, “Aruna dan Lidahnya” Kolaborasikan Kuliner dan Persahabatan

Penulis : Redaksi
Kategori: MUSIK DAN FILM - Dibaca: 481 kali


Palari Films bersiap merilis film terbaru Aruna dan Lidahnya pada 27 September. Film bertemakan kuliner, persahabatan, cinta dan konspirasi ini dibintangi oleh Dian Sastrowardoyo, Oka Antara, Hannah Al Rashid, dan Nicholas Saputra. Film ini makin spesial dengan mengambil lokasi syuting di Surabaya, Pamekasan (Madura), Pontianak, dan Singkawang.

Aruna dan Lidahnya adalah cerita tentang ARUNA (Dian Sastrowardoyo) yang ditugaskan bekerja berkeliling ke empat kota Indonesia sambil bertualang kuliner bersama kedua temannya, BONO (Nicholas Saputra) dan NAD (Hannah Al Rashid). Saat menjalani tugasnya, Aruna bertemu dengan mantan rekan kerja yang pernah ia taksir, FARISH (Oka Antara). Keempatnya terlibat dalam perjalanan penuh percakapan yang mengungkapkan kisah kehidupan dan rahasia terpendam.

Dalam perjalanan keempat karakter, mereka mencicipi berbagai makanan nusantara yang jarang dibahas banyak orang maupun yang sudah populer sebelumnya. Makanan yang akan hadir di antaranya adalah Lorjuk (makanan khas Pamekasan), Bakmi Kepiting (Pontianak), sampai Nasi Cumi (Surabaya). Di setiap makanannya mereka menemukan sesuatu yang tak terduga. Total ada 21 makanan, minuman, dan cemilan yang terdapat dalam film.

Selain pencarian makanan, film ini juga menangkap sepenggal kisah perjalanan manusia yang sedang dalam proses menemukan jawaban dalam hidupnya. Masing-masing karakter datang dengan kegelisahan yang berbeda. Aruna mencari nasi goreng yang telah lama diidamkannya, Farish berusaha menyelesaikan pekerjaan yang ditugaskan kepadanya, Bono bergulat dengan perasaan yang ia pendam, dan Nad yang hendak berpetualang kuliner.

Edwin, selaku sutradara mengeksplorasi gaya yang jarang ditampilkan dalam film-filmnya. Di Aruna dan Lidahnya, dinamika kehidupan orang dewasa dibicarakan di meja makan. Film ini mengandung banyak dialog yang dalam namun dibawakan dengan ringan. Setiap karakter yang berbeda menunjukkan bahwa keragaman pendapat dapat bertemu disatu meja.

“Pemilihan Aruna dan Lidahnya sebagai proyek lanjutan setelah Posesif merupakan usaha Palari Films untuk memotret relasi manusia dengan cara yang jarang diperlihatkan di film Indonesia. Film kali ini bergenre drama romantis yang menekankan pada intimasi hubungan antar manusia yang dinamis seperti pekerjaan, percintaan, persahabatan yang semuanya bertemu di penjelajahan kuliner,” ujar Meiske Taurisia selaku produser.

Produser Muhammad Zaidy menambahkan, “Film Aruna dan Lidahnya tidak semata-mata membicarakan makanan sebagai objek. Di film ini meja makan menjadi tempat berkumpulnya manusia yang memungkinkan terjadinya perbincangan secara intim".

Peristiwa tersebut disuguhkan sewajarnya, selayaknya kehidupan sehari-hari. Hubungan antara para karakter nyata dan dapat dialami siapa saja. Misalnya bagaimana ketika pekerjaan bersisian dengan urusan pribadi yang tidak diinginkan. Dengan premis seperti itu, film ini menjanjikan pengalaman menonton yang menggiurkan dan juga mengenyangkan pikiran.

Film disutradarai oleh Edwin, ditulis skenarionya oleh Titien Wattimena. Produser adalah Meiske Taurisia dan Muhammad Zaidy. Pengarah sinematografi adalah Amalia TS, penyunting gambar W. Ichwandiar Dono. Produksi Palari Films didukung oleh GO-STUDIO Original, CJ Entertainment, Phoenix Films, dan Ideosource Entertainment.

Aruna dan Lidahnya diadaptasi lepas dari novel berjudul sama karangan Laksmi Pamuntjak yang baru saja diluncurkan ulang sampul barunya pada tanggal 3 Agustus oleh Gramedia Pustaka Utama. Sampul diambil dari teaser poster Aruna dan Lidahnya yang menampilkan keempat aktor aktris film.

Edwin yang berteman dengan Laksmi mengaku tertarik untuk memfilmkan buku tersebut sejak pertama kali membacanya. “Karena saya tertarik bagaimana relasi antara makanan dan manusia di sekitarnya saling mempengaruhi satu sama lain. Buku ini mampu menyajikan potret tentang manusia yang wajar dan dekat di hati. Selain itu, banyak ragam detail persis seperti makanan Indonesia yang mempunyai kekayaan bumbu dan jenis masakannya,” tutur Edwin. “Makanan yang penuh cita rasa sama seperti hidup yang penuh lika liku seperti persahabatan, cinta, pekerjaan, rahasia, hingga persoalan sosial. Kekompleksan tersebut dapat membuat kita mensyukuri betapa beruntungnya jadi manusia".