Kamis, 12 Juli 2018 - 09:03:43 WIB

Ini Penyebab Rosyid Arsyad MUNDUR dari Kader dan Bacaleg Gerindra

Penulis : Redaksi
Kategori: METROPOLITAN - Dibaca: 530 kali


Menjadi Caleg 2019 sesungguhnya adalah cita-cita mulia. Tidak sembarang orang bisa dengan kesadarannya yang tulus mengikrarkan diri untuk mengabdi dengan mendaftarkan dirinya menjadi Caleg.

Karenanya, meyakini niat baiknya yang tulus mengabdi hanya untuk kemaslahatan masyarakat, utamanya warga Cakung, Pulo Gadung dan Matraman, kader dan bacaleg DPRD DKI Jakarta asal partai Gerindra, Abdul Rosyid Arsyad, menyatakan "ogah" membayar "mahar" politik, dan memilih mengundurkan diri baik sebagai bacaleg maupun kader partai Gerindra.

"Iya benar saya mengundurkan diri menjadi kader dan bacaleg DPRD DKI dapil 4 Cakung, Pulo Gadung dan Matraman dari partai Gerindra, dikarenakan adanya tambahan biaya yang harus diserahkan ke partai", kata Roshid Arsyad kepada redaksi, Kamis (12/7).

Roshid menuturkan, permintaan tambahan biaya tersebut untuk biaya pembekalan caleg, test urine dan paling besar untuk kontribusi ke partai.

"Biaya terbesar untuk kontribusi ke partai Gerindra.yang dibebankan kepada semua caleg Gerindra dengan nominal mencapai ratusan juta persatu orang caleg. Saya tidak cukup uangnya dan tidak mau ada politik transaksional, agar saya tidak terbebani ketika saya jadi DPRD DKI berpikiran balik modal dan terlebih saya tidak mau ikut masuk ke rombongan mantan napi korupsi", tandasnya.

"Saya tidak mungkin mengundurkan diri kalo tidak ada sebab dan ini sudah hasil kesepakatan musyawarah mufakat dari keluarga saya, saudara saya, teman-teman saya dan konstituen saya, maka dari itu saya mengundurkan diri dari partai Gerindra dan kemungkinan saya tetap akan menjadi caleg DPRD DKI dari partai lain yang tidak ada mahar politik, kontribusi atau tanpa biaya apapun ke partai", lanjut Roshid yang juga Ketua Umum Komite Pedagang Pasar (KPP).

Roshid menegaskan, dirinya ingin berjuang penuh bagi warga yang memang sudah jenuh dengan politik transaksional yang hanya mengakibatkan caleg terpilih lupa dan tidak mau mengurus permasalahan yang dihadapi warga serta tidak memperjuangkan/menyalurkan aspirasi yang dibutuhkan warga dikarenakan merasa sudah membayar warga sewaktu kampanye dengan sembako dan uang.

"Apalagi ditambah caleg ada mahar politiknya. Baru jadi bakal calon legislatif (bacaleg) saja sudah mengeluarkan uang ratusan juta, belum ditambah biaya kebutuhan kampanye. Kalau jadi DPRD kaga mungkin dia fokus urus aspirasi warga dapilnya dan dikhawatirkan dia korupsi karena sudah habis uang banyak. Maka dari itu saya putuskan mengundurkan diri dari partai Gerindra. Banyak mudhorotnya dan tidak ada kemaslahatan dan kaga bisa bermanfaat untuk orang banyak", pungkas Abdul Rosyid Arsyad, mantan Kader Gerindra dan Bacaleg DPRD DKI Jakarta daerah pemilihan (dapil) 4 kecamatan Cakung, Pulo Gadung dan Matraman dari partai Gerindra ini. (bud)