Senin, 18 Desember 2017 - 18:42:51 WIB

28 Provinsi KLB Difteri. Masyarakat Dihimbau Ikut ORI

Penulis : Redaksi
Kategori: NASIONAL - Dibaca: 317 kali


Raja- Sekitar 40 anak di Indoneaia sudah meninggal akibat penyakit difteri dalam beberapa hari belakangan, dan sekitar 800 anak lainnya harus dirawat di rumah sakit. Atas kejadian ini pemerintah telah menetapkan difteri sebagai kejadian luar biasa (KLB) di 28 provinsi di Indonesia

"KLB saat ini tertinggi di dunia. Jumlahnya paling banyak, dan jumlah cakupan provinsinya juga paling luas. Di India Brazil, Rusia dan negara lainnya tidak sebanyak dan seluas ini", kata Ketua PP IDAI DR. Dr. Aman B Pulungan, Sp.A (K) kepada wartawan di kantor PB IDI, Jakarta, Senin (18/12).

"Sebagian besar yang meninggal itu tidak pernah iminisasi difteri, DPT., DT dan Td. Atau imunisasinya tidak lengkap", lanjut dr Aman.

Dikesempatan yang sama, Ketua Umum PB IDI prof. Dr. Ilham Oetama Marsis Sp. OG (K) mengatakan, timbulnya KLB difteri ini bukti bahwa program imunisasi selama ini cakupannya tidak merata.

"Timbulnya masalah ini karena cakupan iminisasi sejauh ini belum merata, tidak sampai 90 persen, mungkin hanya 70 persen. Ketidak sempurnaan pelaksanaan program vaksinasi akan berdampak pada generasi mendatang. Karena itu kita dorong orang tua (di wilayah KLB) untuk membawa anaknya guna mendapat imunisasi tambahan dalam program ORI", kata Dr. Ilham.

ORI atau Outbreak Response Imminization adalah strategi yang dilakukan untuk mengendalikan KLB melalui imunisasi tambahan. Tujuannya untuk meningkatkan kekebalan populasi sehingga dapat mencegah meluasnya penularan.

"Kegiatan ini wajib diikuti oleh anak usia 1-9 tahun yang tinggal di daerah KLB. Sementara bagi anak dan dewasa di luar wilayah KLB diharapkan melengkapi status imunisasi sesuai usia", jelas Ilham.

Untuk diketahui, imunisasi disebut lengkap bila sampai usia 2 tahun mendapatkan imunisasi DPT 4 kali, usia 5 tahun DPT 5 kali. Umur < 19 tahun DPT, DT, Td total 8 kali.

Ilham kembali menegaskan, masyarakat tidak perlu khawatir mengikuti program ORI meskipun merasa telah melakukan imunisasi lengkap.

"Di wilayah KLB, yang lengkap maupun bleum lengkap senua (harus) ikut ORI. Jangan khawatir, tidak apa-apa. Percayalah bahwa vaksin adalah aman dan bermanfaat. Di negara manapun melakukan ORI ini", tegas Ilham.

Dr. Aman membenarkan, sangat dibutuhkan peran aktif semua lapisan masyarakat dalam menangani KLB ini. Dia berharap seluruh lapisan masyarakat ikut mendukung program ORI ini.

"Tidak boleh ada yang menghalang-halangi vaksinasi ini kalo masih tinggal di Indoneaia. ORI ini satu-satu nya jalan. Kalo bisa ORI ini dimulai oleh kepala negara. MR (valsin) juga dimulai oleh kepala negara, sehingga masyarakat yakin bahwa isu ini penting", pungkas Dr. Aman. (Bud)