Selasa, 12 Desember 2017 - 03:59:05 WIB

Tjahjo, "Gaya Komunikasi Kunci Jokowi Diterima Masyarakat"

Penulis : Redaksi
Kategori: POLITIK DAN HUKUM - Dibaca: 317 kali


Raja- Gaya komunikasi seorang pemimpin dengan masyarakatnya di setiap periode pemerintahan negeri ini selalu berbeda. Tak terkecuali dengan gaya komunikasi presiden Joko Widodo (Jokowi) yang dikenal dengan blusukannya (menyapa masyarakat secara langsung).

Menteri dalam negeri Tjahjo Kumolo mengatakan, gaya komunikasi memang dibutuhkan terlebih bagi seorang pemimpin untuk menunjukkan bagaimana ia berinteraksi dengan rakyatnya.

"Komunikasi dalam pllitiik itu penting untuk menunjukan bagaimana seorang pemimpin berinteraksi dengan rakyatnya. Ini juga bisa untuk mengukur efektifitas pemerintahannya. Dengan komunikasi yang baik, masyarakat bisa mengerti apa yang sedang dan telah dikerjakan pemerintah", kata Tjahjo saat menjadi keynote speaker dalam Seminar "Gaya Komunikasi Jokowi : Membangun Budaya Dialogis dalam Masyarakat Pluralis" di Kampus UKI, Jakarta, Senin (11/12).

Menurut Tjahjo, gaya komunikasi Jokowi dengan blusukannya, apa adanya, menggunakan bahasa yang bersahaja, cenderung non konvensional/ non protokoler, serta mengedepankan dialogis dalam mendengar dan menampung aspirasi, ternyata dapat menjadi kunci yang mendekatkan Jokowi dengan masyarakat sekitar, baik semasa di Solo (menjadi walikota), maupun di Jakarta (Gubernur).

"Karena adanya arus komunikasi timbal balik, dua arah, menjadikan pemimpin cenderung memiliki rasa kepedulian terhadap semua pihak", jelasnya.

Cara komunikasi Jokowi ini, lanjut Tjahjo, terus berlanjut hingga saat ini (Presiden).

"Dalam Kabinet Kerja pun sistem komunikasi yang beliau bangun, 4 hari rapat, Jumat, Sabtu, Minggu keliling melihat langsung perkembangan pembangunan dan bersentuhan langsung dengan masyarakat", ungkap Mendagri dalam keynote speach nya.

Sementara sebelumnya, Rektor UKI Dr. Maruarar Siahaan, SH dalam sambutannya mengingatkan, dalam berpolitik maka politikus memang harus mengerti bahasa politik. Namun seperti apapun itu, harus tetap dalam kerangka persatuan dan menuju arah yang lebih baik.

"Kita harus dapat merubah bahasa dalam artian bahasa yang bisa saling memahani dalam kondisi kita saling berbeda", pesannya.

Seminar yang diselenggarakan oleh fakultas Komunikasi Fisipol UKI tersebut menampilkan nara sumber antara lain Eko Sulistyo (Deputi Bidang Komunikssi Politik & Diseminasi Informasi kantor Staf Kepresidenan), Eva K. Sundari Anggota DPR RI fraksi PDIP), Dr. Ade Armando M.Si (pakar komunikasi UI), Kris Budihardjo (Ketua Umum RKIH), dan moderator Singgih Sasongko S.IP. M.Si. (Bud)