Selasa, 28 November 2017 - 17:57:23 WIB

Ayo Dukung, Peringati HDI, Warga Panti Grahita Giat Berlatih Seni

Penulis : Redaksi
Kategori: METROPOLITAN - Dibaca: 226 kali


Raja- Warga Binaan Panti Sosial Bina Grahita Belaian Kasih milik Dinas Sosial DKI Jakarta giat berlatih tarian kreasi dan tarian tor tor untuk memperingati Hari Disabilitas Internasional tahun 2017.

Tarian itu rencananya akan ditampilkan saat HDI 2017 tingkat Provinsi DKI Jakarta bulan Desember mendatang.

Kepala Panti Sosial Bina Grahita Belaian Kasih, Ngapuli Perangin Angin mengemukakan, tidak hanya tarian namun juga permainan angklung dan kasidah akan ikut ditampilkan.

"Warga binaan kami ikut berpartisipasi dalam peringatan HDI nanti. Karena HDI ini memang kami persembahkan untuk mereka sebagai hari raya mereka", kata Ngapuli saat ditemui, Selasa (28/11).

Ia melanjutkan, meskipun binaannya terdiri dari para disabilitas intelektual, namun mereka tetap semangat dan tekun berlatih untuk penampilan mereka.

Dalam persiapan penampilan, instruktur dan pendamping panti memfasilitasi pelatihan mereka sebanyak dua kali seminggu. Latihan itu sengaja dilakukan cukup intensif agar penampilan mereka semakin bagus.

"Instruktur dan pendamping kami cukup sabar memberikan instruksi kepada mereka. Kadang-kadang mereka terlambat mengerti arahan-arahan dari instruktur atau pendamping", jelas Ngapuli.

Dalam tarian kreasi dan tarian tor tor, pihaknya melibatkan lima orang warga binaan panti. Sedangkan angklung ada delapan orang yang dilibatkan dan kasidah ada sembilan orang.

Latihan-latihan itu menurutnya memang bagian dari pelatihan kesenian. Jika tidak ada event, warga binaan tetap berlatih seminggu sekali.

"Latihan ini untuk melatih motorik konsentrasi mereka. Karena mereka ini kan disabilitas intelektual. Agak kesulitan jika tidak latih pelan-pelan", terang Ngapuli.

Mayoritas warga binaan panti disabilitas intelektual ini merupakan orang telantar yang tidak diketahui keberadaan orang tuanya. Mereka merupakan hasil penjangkauan di jalanan Jakarta.

Ngapuli mengatakan, beberapa keluarga kerap datang ke pantinya untuk mencari sanak saudara yang hilang. Karena rata-rata warga binaannya tidak tahu siapa keluarga mereka.

"Iya banyak orang telantar. Saat ini di panti kami saja sudah ada 256 orang. Keluarga tidak tahu di mana," kata Ngapuli. (dis)