Kamis, 31 Agustus 2017 - 00:48:51 WIB

Peluncuran Buku Penanganan ODMK dan ODGJ, Djarot: Banyak yang Tidak Peduli

Penulis : Redaksi
Kategori: METROPOLITAN - Dibaca: 196 kali


Raja- Gubernur DKI Jakarta, Djarot Saiful Hidayat menekankan pentingnya penanganan Orang Dengan Masalah Kejiwaan dan Orang Dengan Gangguan Jiwa. Karena selama ini, masih banyak orang yang tidak peduli bahkan kerap mengolok-olok mereka.

"Justru yg mengolok-olok itu yang nggak normal itu Anda. Bukan mereka", kata Djarot pada Peluncuran dan Diskusi Buku Inovasi Penanganan ODMK dan ODGJ Provinsi DKI Jakarta pada Rabu (30/8).

Ia melanjutkan, bahkan masih ada stigma dari masyarakat termasuk keluarga. Orang dengan gangguan jiwa tidak diterima oleh masyarakat. Bahkan ada pula yang dipasung.

Karena sebenarnya, perhatian kepada orang dengan gangguan jiwa itu bagian dari kepedulian terhadap sesama saudara. Harus ada uluran tangan dari kita untuk membantu mereka agar pulih kembali.

"Semakin tinggi tekanan hidup. Semakin besar berpotensi orang normal terkena gangguan jiwa. Baik di negara perkembangan atau negara maju", ujar Djarot.

Artinya, semua orang bisa terkena gangguan jiwa tidak hanya orang miskin. Siapapun bisa kena karena tidak mengenal status sosial.

Hal terburuknya adalah bunuh diri. Sehingga perlu perhatian dari pemerintah dan masyarakat untuk mengatasi permasalah orang gangguan jiwa.

Sementara itu, Kepala Dinas Sosial DKI Jakarta, Masrokhan mengemukakan, peluncuran buku Penanganan ODMK dan ODGJ di Provinsi DKI Jakarta untuk menjawab tingginya prevalensi ODMK dan ODGJ di Jakarta.

"Ini untuk mengatasi tingginya jumlah warga binaan sosial di panti yang mencapai 2.962 orang. Sedangkan kapasitas panti hanya 1700 orang", kata Masrokhan.

Melalui buku itu, warga binaan panti akan diberikan metode penanganan yang efektif berupa Terapi Kolaboratif Terinstagrasi. Buku itu disusun oleh berbagai rumpun pakar yang ahli di bidangnya masing-masing.

"Kami mengumpulkan pakar itu ke dalam tujuh rumpun. Rumpun psikofarmakologi, psikiatri, perawat, psikologi klinis, psikologi komunitas, pekerja sosial, dan unsur kelompok pendukung lainnya", terang Masrokhan.

Mereka menuangkan gagasan dan ide ke dalam bentuk buku untuk diimplementasi dalam pemulihan ODMK dan ODGJ. Harapannya, penanganan itu dapat mengembalikan kepulihan ODMK dan ODGJ agar bisa kembali ke masyarakat.

Ini juga katanya, tidak bermaksud mengambil alih peran dan fungsi instansi terkait. Ini adalah upaya pencarian solusi terbaik dalam mengatasi stagnasi rehabilitasi ODMK dan ODGJ di DKI.

"Semoga ini menjadi inspirasi bagi mereka yang berkicumpung dalam penanganan ODMK dan ODGJ. Kita bisa saling melengkapi pola penangannya. Daerah lain pun bisa ikut memberikan perhatian terhadap ODMK dan ODGJ", kata Masrokhan.