Selasa, 10 Desember 2019 - 04:22:05 WIB

Mitos dan Fakta Tentang Penyakit Autoimun: Terbukti Secara Ilmiah atau Testimoni?

Penulis : Redaksi
Kategori: INFOTAINMENT - Dibaca: 751 kali


Maraknya berita dan informasi tentang isu-isu kesehatan khususnya di media sosial dewasa ini seringkali menciptakan nuansa yang samar antara fakta dan informasi yang evidence based (ilmiah dan berbasis bukti). Hal ini diperparah dengan berbagai tawaran di dunia maya yang mengajak atau menawarkan berbagai obat herbal atau suplemen yang belum tentu jelas efikasinya terhadap perbaikan suatu penyakit. Sementara itu, di sisi lain di media juga beredar informasi terkait sejumlah artis yang menyintas penyakit autoimun. Sebut saja yang belum lama ini viral: Ashanty, Raditya Dika, Selena Gomez, dan banyak artis lainnya. Atau kasus rakyat jelata yang juga menyintas penyakit autoimun dan viral, seperti Sulami si “manusia kayu”. Berbagai pemberitaan dan terapi yang mereka jalani mengundang banyak tanggapan warganet: mulai dari simpati, empati, nyinyiran, atau juga mungkin malah ada yang memanfaatkan dengan menawarkan obat herbal atau suplemen seperti tadi? Mungkin banyak yang penasaran juga: apa sih itu autoimun?

Autoimun dikenal di dunia kedokteran sebagai kondisi dimana respon sistem imun yang seharusnya melawan serangan infeksi virus atau bakteri patogen justru melawan jaringan tubuh sendiri. Pada tahun 1992, jenis penyakit autoimun yang dikenal ada 67 jenis, tetapi sekarang menurut The American Autoimmune Related Disease Association (AARDA), ada lebih dari 100 jenis penyakit autoimun, dan kebanyakan menyerang wanita usia produktif. Namun di masa kini, dengan kemajuan dunia kedokteran modern, penyakit ini dapat dideteksi lebih dini, walaupun dalam kasus tertentu memerlukan waktu cukup panjang untuk diobservasi dan didiagnosis.

Dalam perkembangan dunia dan sosial media dewasa ini, penting untuk mengetahui apa itu penyakit autoimun dan berbagai mitos dan fakta yang menyelimutinya, khususnya bila dikaitkan dengan kebingungan masyarakat akibat biasnya fakta ilmiah dan hoax serta berbagai tawaran menggiurkan dari berbagai suplemen yang katanya “dapat menyembuhkan segala penyakit” dengan berbagai testimoni. Kondisi yang memprihatinkan ini menggelitik Relawan Lupus Indonesia (RELI) sebagai salah satu organisasi nirlaba yang bergerak dalam edukasi Lupus dan autoimun untuk memberikan edukasi yang benar dan tepat mengenai penyakit autoimun yang belakangan ini menjadi trending topic.

Seminar awam yang membahas tuntas tentang serba-serbi penyakit autoimun tadi telah sukses diselenggarakan oleh RELI dengan bekerjasama dengan Yayasan Tittari Surakarta pada hari Minggu (8/12) lalu di Rumah Makan Taman Sari, Colomadu, Kabupaten Karanganyar, Surakarta dan dihadiri oleh 260 orang peserta meliputi penyintas, caregiver, kalangan medis, dan pemerhati penyakit autoimun. Seminar ini mengusung tema “Mitos dan Fakta Tentang Penyakit Autoimun” yang mengajak serta para pakar medis dari area Joglosemar dengan turut mengundang berbagai komunitas penyintas penyakit autoimun dari berbagai daerah. Peserta yang hadir bahkan datang lintas area, dari Jakarta, Tegal, hingga Malang – bukan hanya dari area Joglosemar semata.

Menurut Yuliana Sunariyati, bendahara dari seminar ini, tujuan diselenggarakannya perhelatan medis bagi awam ini adalah sebuah terobosan dalam memberikan informasi yang up to date, benar, dan berbasis fakta ilmiah kepada masyarakat tentang penyakit autoimun dan penatalaksanaannya. Selain itu, ketua acara ini Alfred Zakaria juga menimpali, “Dari kacamata RELI, seminar awam ini menjadi sebuah sarana pembelajaran yang efektif dan aplikatif karena temanya mengena dan memberikan informasi langsung kepada penyintas untuk mengatasi kegalauan-kegalauan tentang obat herbal maupun diagnosis dari dokter. Tujuan akhirnya tentu saja agar penyintas tidak ragu untuk tetap menjalani metode medis yang terpercaya tanpa takut efek samping obat dan kesalahan diagnosis.”

Di sini RELI dan Yayasan Tittari tidak sekedar menampilkan seminar medis yang membosankan, tetapi membungkus acara ini dengan seni tari dan nyanyi, selain itu juga memberikan nilai positif dan pesan moral kepada semua orang untuk tetap bersemangat menjalani kehidupan sebagai penyintas penyakit autoimun yang sejatinya merupakan penyakit yang serius yang dapat mengancam jiwa, tetapi harapan tidak boleh pupus.