Kamis, 14 November 2019 - 05:12:21 WIB

Sumaryoto : Revolusi Industri 4.0 Tidak Harus Merevolusi Kurikulum Diknas

Penulis : Redaksi
Kategori: DIDAKTIKA - Dibaca: 331 kali


Universitas Indraprasta PGRI (Unindra) menggelar Wisuda ke-72 di TMII, Rabu (13/11). Wisuda ke-6, terakhir pada periode semester genap 2018-2019 ini diikuti sebanyak 1129 calon wisudawan yang terdiri atas 143 mahasiswa program Pascasarjana dan 986 mahasiswa program Sarjana.

"Dengan demikian jumlah alumni kita Insyaallah sudah mencapai lebih dari 72.000 alumni", kata Rektor Unindra, Prof. Dr. H. Sumaryoto dalam sambutannya.

Bila pada periode wisuda sebelumnya berbicara mengenai target dan capaian yang sudah diraih Unindra selama 14 tahun berdiri, kali ini dalam sambutannya Sumaryoto mengingatkan wisudawan akan tantangan revolusi industri 4.0 yang sebentar lagi akan dihadapi. Revolusi industri 4.0 inipun ditengarai akan memaksa perubahan mendasar kurikulum pendidikan nasional.

"Kali ini saya berbicara tentang revolusi industri 4.0. Ini luar biasa gemuruhnya, seolah kita ini tidak ada lain yang harus kita pikirkan. Kita akan memasuki revolusi industri 4.0. Yang 1.0 adalah saat ditemukannya meain uap  oleh James Watt. Yang 2.0 adalah saat ditemukannya tenaga listrik oleh Thomas Alfa Edison. Yang samar-samar itu 3.0. Kenapa ? Karena saat itu sudah ditemukannya mesin komputer. Dan komputer ini sebetulnya sudah dikenal sejak abad 20 tahun 1950-an. Di Indonesia komputer baru masuk tahun 70-an dan itupun sangat langka. Dan dengan komputer ini berkembang luar biasa semua serba komputerize, semua serba online. Sehingga suatu ketika semua yang bekerja dan terlibat dalam proses produksi barang dan jasa adalah robot. Inilah yang ditengarai dengan revolusi industri 4.0. Sudah bisa kita bayangkan dengan apa-apa serba robot, serba mekanik ini pastinya akan menggusur tenaga kerja yang ada dan mempersempit peluang yang akan datang", paparnya.

"Kita masih ingat dengan kurikulum 2013, dan sampai detik ini belum tuntas. Dan sekarang sudah akan diubah, direvolusi kurikulum kita. Nah ini tentunya yang harus hati-hati. Karena apa ? Bicara pendidikan itu bicara sistem. Bicara sistem bicara banyak unsur yang terkait yang ada di dalam proses. Dari mulai siswa sebagai input, kemudian guru/dosen sebagai pilar di dalam proses pembelajaran, kemudian ada sarana prasarana sebagai pendukung proses. Nantinya bermuara pada output yaitu lulusan. Yang sekarang dicanangkan adalah bagaimana lulusan kita berdaya saing. Ini yang barangkali harus ditelaah. Karena apa ? Pendidikan kita, Indonesia ini masih relatif muda dan belum saatnya bersaing dengan negara yang jauh lebih maju. Yang tepat adalah bagaimana kita bertahan di negeri sendiri", kata Sumaryoto.

Karena itu, lanjut Sumaryoto,  jika nanti ada perubahan kurikulum, mustinya kementerian yang ada harus berkoordinasi dengan kementerian yang lain. "Paling tidak Kemendikbud dengan Kementerian Tenaga Kerja. Tidak bisa jalan sendiri. Karena apa ? Kita harus ingat, tujuan dibentuknya Indonesia, ada didalam pembukaan Undang-undang Dasar 45 : memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa. Nah ini. Karena UUD 45 adalah sumber hukum tertulis yang harus dilaksanakan oleh semua unsur dan aparatur Pemerintah. Tidak bisa Kemendikbud berjalan sendiri, harus berkoordinasi dengan kementerian-kementerian yang lain. Ini harus menjadi perhatian kita semua. Kita adalah komunitas pendidikan. Harus hati-hati, yang sudah ada aja belum tuntas. Revolusi boleh, tapi harus diingat banyak kaitannya, nanti terutama masalah kesempatan kerja dan masalah tenaga yang sudah ada", jelasnya.

"Dan daya saing kita juga masih lemah. Jadi tujuan memperkuat daya saing internasional, saya kira itu kurang pas", tegas Sumaryoto.

Yang lebih tepat menurut Sumaryoto adalah, bagaimana agar bangsa Indonesia menjadi tuan di negara sendiri. "Sehingga arus tenaga dari luar bisa kita bendung dengan cara self sustain dari tenaga kerja yang sudah ada. Karena sudah lama, terutama di pendidikan tinggi, harus ada link and match antara dunia pendidikan tinggi dengan dunia pasar kerja. Ini yang harus tetap jadi pegangan kedepan", tandasnya.

Sumaryoto melanjutkan, bila berbicara kurikulum pendidikan tinggi juga tidak semudah membalik telapak tangan. Maka seharusnya bukan revolusi, tapi dilakukan secara gradual, bertahap, melalui suatu penelitian, riset dan sebagainya. 

"Ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab pemerintah. Kita sebagai lembaga pendidikan tinggi hanya melaksanakan aturan-aturan yang sudah diberlakukan. Dibawah binaan LL Dikti Wilayah III, Unindra selama ini berusaha sekuat tenaga selalu konsisten dengan apa yang sudah diputuskan apa yang sudah ditetapkan menjadi acuan kita ke depan", imbuhnya.

Kepada para wisudawan Sumaryoto tak lupa berpesan untuk terus belajar dan pandai bersyukur.

"Jangan lupa tetap mensyukuri apa yang diperoleh, apapun kekurangannya wajib kita bersyukur. Jika pandai mensyukuri nikmat, nikmat yang lain akan ditambah Allah subhanahu wataala, termasuk lapangan kerja. Toh saudara-saudara juga sudah diberikan mata kuliah kewirausahaan selama 2 semester, jadi tidak harus mencari pekerjaan sana sini tapi bisa merintis usaha berserikat beberapa teman, tidak harus sendiri, dan semua itu adalah kehendak Tuhan, karena kalau Tuhan sudah berkehendak apapun bisa terjadi. Maka satu-satunya yang harus kita lakukan adalah, sebagai orang yang beriman, pandai mensyukuri setiap nikmat yang diberikan Allah subhanahu wataala", pungkas Rektor Unindra, Prof. Dr. H. Sumaryoto.    (bp)