Selasa, 29 Oktober 2019 - 18:21:28 WIB

Operasi TMC, Cadangan Air Waduk Kaskade Citarum Diharap Capai Batas Normal 

Penulis : Redaksi
Kategori: METROPOLITAN - Dibaca: 303 kali


Operasi TMC (Teknologi Modifikasi Cuaca) ditargetkan mampu mengisi cadangan air waduk Kaskade Citarum sekitar 20 persen. Waduk Kaskade Citarum terdiri dari Waduk Saguling, Waduk Cirata dan Waduk Jatiluhur  yang merupakan tulang punggung dari ketersediaan pasokan listrik di wilayah Jawa Bali. Selain untuk produksi listrik, air yang bersumber dari Waduk Kaskade Citarum juga digunakan untuk pertanian di Jawa Barat, termasuk memenuhi kebutuhan air baku bagi penduduk Jakarta dan sekitarnya, termasuk industri.

”Pembangkit Listrik Tenaga Air memegang posisi strategis dalam suplai listrik. Dibanding batu bara dan minyak bumi jauh lebuh murah dan hanya butuh waktu singkat untuk memproduksinya menjadi listrik. Permasalahannya, kondisi pada minggu lalu sebelum TMC, ketiga waduk dalam posisi minus dibawah batas operasi normal sehingga memang diperlukan TMC untuk meningkatkan cadangan waduk", kata Dian Al Maruf, Kabid Operasi dan Pemeliharaan Balai Besar Wilayah Sungai Citarum di Bandung, Rabu (29/10/2019)

Sebelum operasi TMC, pada Jumat (25/10/2019), kondisi tinggi muka air di Waduk Saguling tercatat -1,09 meter dibawah batas operasi normal, Waduk Cirata -0,26 meter dibawah batas operasi normal, dan Waduk Jatiluhur -1,84 meter dibawah batas operasi normal. “Untuk operasional listrik sudah minim, bahkan secara keseluruhan untuk pertanian dan kebutuhan bahan baku air, kendati sudah dibuatkan rencana operasi pengelolaan waduk dari Januari hingga Desember. Jika Waduk Jatiluhur tidak ada air, maka imbas terhadap cadangan air bagi masyarakar Jakarta.  Karena 80 persen kebutuhan air penduduk Jakarta bersumber dari Jatiluhur lewat Citarum Barat,” papar Dian Al Maruf.  

Disisi lain, lanjut Dian, jika sudah berada di batas operasi normal bawah, maka warning   (peringatan) bukan hanya kondisi cadangan air saja, tapi juga keamanan bendungan. “Terjadi retakan jika air mengering dan jika air melimpah, bendungan bisa jebol. Jadi, perlu waduk dijaga ketersediaan airnya,” ujarnya.  

Hal senada disampaikan Muhammad Munir, General Manager Unit Pembangkitan Cirata. “PLTA Cirata dan Saguling mempunyai peran strategis sebagai pengatur frekwensi  sistem kelistrikan Jawa Bali dan fungsi sebagai unit line charging ke sistem 500 KV jika terjadi black out sistem Jawa Bali,” paparnya.

Dua Kali Setahun

Tri Handoko Seto, Kepala Balai Besar Teknologi Modifikasi Cuaca (BBTMC-BPPT)  mengatakan untuk wilayah Jawa Barat, diusulkan dilaksanakan operasi TMC sebanyak dua kali dalam setahun. “Idealnya, di Jabar dilaksanakan TMC dua kali. Karena operasi TMC juga bergantung ketersediaan awan potensial untuk disemai. Sehingga lebih preventif,” ujarnya.  

Operasi TMC di Jabar, kata Tri Handoko Seto, diusulkan dilaksanakan sekitar Mei, agar pada musim kemarau cadangan air banyak. Selanjutnya, pada Oktober dilaksanakan TMC kedua. “Oktober selain mengisi cadangan waduk kembali juga untuk tujuan pembahasan lahan-lahan akibat kemarau,” ujarnya.

Seto juga menghimbau Balai Besar Wilayah Sungai Citarum (institusi yang membawahi Kaskade Citarum) agar memperkuat prediksi iklim untuk rencana pengelolaan waduk tahunan, termasuk melakukan upaya optimalisasi waduk. “Prediksi harus menjadi dasar pengambilan keputusan pengelolaan waduk. Selain itu, melakukan upaya-upaya optimalisasi pengelolaan, dari ketersediaan air yang sebatas cukup menjadi meningkat cadangannya sehingga bisa dimanfaatkan lebih luas,” ujarnya.

Seperti diketahui, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) melalui Balai Besar Teknologi Modifikasi Cuaca (BBTMC) memulai operasi TMC (Teknologi Modifikasi Cuaca) Jum’at lalu di  daerah tangkapan air waduk kaskade Citarum Jawa Barat.

Kegiatan ini merupakan kerjasama antara BBTMC-BPPT dengan Perum Jasa Tirta II, PT Indonesia Power dan PT Pembangkitan Jawa Barat.  Selain itu,  juga berkoordinasi dengan Pemerintah Provinsi Jawa Barat, Balai Besar Wilayah Sungai Citarum, Pusat Sumber Daya Air Kementerian PUPR dan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Gefisika (BMKG).

Waduk Kaskade Citarum terdiri dari Waduk Saguling, Waduk Cirata dan Waduk Jatiluhur  yang merupakan tulang punggung dari ketersediaan pasokan listrik di wilayah Jawa Bali. Waduk Saguling memiliki kapasitas produksi  4 x 175.8 MW, sedangkan Waduk Cirata 8 x 126 MW dan Waduk Jatiluhur 187 MW.

Koordinator Lapangan Posko TMC Citarum Erwin Mulyana mengatakan BBTMC-BPPT mengoperasikan pesawat jenis CASA 212-200 registrasi PK-PCT milik PT Pelita Air Service untuk operasi TMC Kaskade Citarum yang direncanakan sekitar 20 hari mendatang.

Selain itu, lanjut, Erwin, BBTMC-BPPT juga memboyong mobile radar cuaca yang ditempatkan di Posko Citarum yang berlokasi di Lanud Husein Sastranegara untuk memonitor lokasi dan pertumbuhan awan yang akan disemai.

Untuk membantu pengamatan cuaca dan kondisi awan di wilayah target, ditempatkan personil di 2 lokasi Pos Pengamatan Meteorologi (Posmet), yaitu di daerah Ciwidey dan Purwakarta. ”Hasil pengamatan cuaca dan potensi awan hujan akan dilaporkan setiap saat oleh petugas di Posmet kepada Tim Pelaksana di Posko, untuk dianalisis dan dijadikan sebagai masukan guna menentukan strategi pelaksanaan penyemaian awan setiap harinya", papar Erwin Mulyana.