Selasa, 29 Oktober 2019 - 17:18:07 WIB

Generasi Muda Harus Jadi Tokoh Utama Dalam Program KB

Penulis : Redaksi
Kategori: NASIONAL - Dibaca: 296 kali


Bertepatan dengan hari Sumpah Pemuda, PKBI, Ikatan Bidan Indonesia (IBI), berkerjasama dengan DKT Indonesia menggelar Dialog "Harmonisasi Program Keluarga Berencana Untuk Kesejahteraan Indonesia" di Denpasar, Bali. Dialog dihadiri oleh jurnalis dan wartawan media cetak maupun online. Pertemuan tersebut menjadi momentum untuk membangun pemahaman bersama bahwa sudah saatnya generasi muda mendapatkan pengetahuan akan kesehatan reproduksi secara menyeluruh, untuk mencegah kehamilan usia dini pada pasangan muda yang menikah di bawah umur 24 tahun .

Ditemui dalam acara tersebut, Prof. Dr. dr. I Nyoman Mangku Karmaya, M. Repro, Guru Besar Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana, memaparkan bahwa untuk mencapai visi membangun SDM yang berkualitas, yang selama ini telah digaungkan oleh Presiden Jokowi, program Keluarga Berencana (KB) perlu untuk digalakkan dengan menyelaraskan atau harmonisasi segala tantangan-tantangan baik dari aspek hukum, aspek sosial dan aspek budaya.

Dalam rangka Sumpah Pemuda, Guru Besar Universitas Udayana tersebut kembali mengingatkan beban produksi dari generasi muda yang banyak dalam masa produktif bisa menjadi bom waktu apabila dilihat dari pemuda hanya sebagai objek produksi dan reproduksi. Untuk itu, generasi muda harus dibekali keterampilan, dan ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan kesehatan reproduksi yang berkualitas, sejalan dengan ICPD tahun 1994 di Kairo.

Pengurus PKBI Bali, Ida Putu Mudita, kemudian menambahkan bahwa untuk kedepannya generasi muda perlu menjadi tokoh utama program Keluarga Berencana, terutama pemahaman informasi tentang hak dan kesehatan seksual dan reproduksi. Hal ini akan menghindarkan generasi muda dari risiko tindakan aborsi yang tidak aman dan infeksi menular seksual. PKBI sendiri sudah tidak bicara mengenai keluarga berencana namun hak kesehatan seksual dan reproduksi yang dimulai dari hulu ke hilir.

dr. Made Oka Negara, FIAS, Turut menambahkan bahwa berdasarkan hasil penelitian Global Early Adolescent Study (GEAS) 2018 di Kota Denpasar, Memperlihatkan bahwa hanya 5 dari 10 remaja yang nyaman berbicara dengan orangtua/pengasuh mereka dan terdapat 43,6% remaja yang akhirnya berpacaran sembunyi-sembunyi dari orangtua mereka. “Pendidikan Seksualitas sebaiknya diberikan pada anak usia dini dimana anak berada pada tahap perkembangan seksual, Orang tua dan institusi pendidikan memiliki peranan penting untuk memberikan pendidikan seksualitas sejak dini. Pendidikan seksualitas ini penting karena KB bukan hanya sekadar penjelasan alat kontrasepsi. Keluarga Berencana berupaya untuk mendapatkan Sumber Daya Manusia yang berkualitas termasuk remaja yang sehat”, ungkapnya kemudian.

Pada kesempatan yang sama, Ketua Pengurus Daerah Ikatan Bidan Indonesia (IBI) Provinsi Bali, Luh Putu Sekarini menggagas program Keluarga Berencana sudah saatnya diubah nama menjadi program "Keluarga Berkualitas", hal ini untuk merubah pemahaman bahwa Keluarga Berencana hanyalah soal pembatasan jumlah anak.

Di sisi lain Survey Demografi Kesehatan Indonesia 2017 menunjukkan adanya penurunan penggunaan kontrasepsi modern pada segmen usia muda (15 – 29 tahun) secara signifikan sebesar 4 persen. Diperkirakan, Rendahnya pengetahuan generasi muda terhadap pentingnya KB menjadi penyebab utama hal tersebut.

Pada kesempatan yang sama, mewakili private sector, DKT Indonesia sebagai organisasi pemasaran sosial kontrasepsi, mengungkapkan “Salah satu kendala utama edukasi kesehatan reproduksi pada generasi muda adalah stigma bahwa hal ini masih dianggap tabu. Padahal, edukasi dan literasi tersebut harus terus dilakukan untuk mengurangi kejadian kehamilan yang tidak direncanakan serta infeksi menular seksual di kalangan generasi muda”, ungkap Aditya A. Putra selaku Head of Strategic Planning DKT Indonesia.

“Generasi muda harus mengerti bahwa program KB bukan sekedar membatasi jumlah anak, tapi lebih dari itu. KB adalah bagian penting dari perencanaan masa depan, yang nantinya akan menentukan kualitas kehidupan dan kesehatan mereka. Harapannya, apabila mereka memiliki perencanaan masa depan yang kuat, mereka tahu dan bisa merencanakan di usia berapa akan menikah dan akan memiliki anak, serta menentukan berapa banyak anak”, ujar Aditya menutup.