Rabu, 16 Oktober 2019 - 19:25:54 WIB

Rokhmin Dahuri Beri Masukan Pembangunan Pesisir & Laut Bengkulu

Penulis : Redaksi
Kategori: PROFILE / OPINI - Dibaca: 276 kali


Mantan Menteri Kelautan dan Perikanan, Prof Rokhmin Dahuri memaparkan sejumlah masukan untuk pembangunan di wilayah pesisir dan laut. Salah satu provinsi yang memiliki wilayah pesisir dan laut cukup berpotensi yakni di Bengkulu.

Seperti diketahui, Provinsi Bengkulu memiliki wilayah pesisir yang terhentang dari Kabupaten Kaur hingga Kabupaten Mukomuko dengan panjang kurang lebih 500 Km, merupakan sebuah potensi yang harus dioptimalkan. 

Karena itu, Rokhmin Dahuri menjelaskan sejumlah pemikirannya untuk mengoptimalkan pembangunan di wilayah tersebut.

Adapun hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pembangunan di wilayah pesisir dan laut di Bengkulu yakni, pengembangan sektor perikanan, sektor pariwisata bahari serta konsep pengembangan daerah tepian.

"Penguatan dan pengembangan teknologi penanganan (handling) dan transportasi hasil perikanan, peningkatan kualitas dan daya saing industri pengolahan hasil perikanan tradisional dan peningkatan kualitas dan daya saing industri pengolahan hasil perikanan modern, merupakan tiga poin penting untuk pengembangan sektor perikanan." ujar Prof. Rokhmin Dahuri dalam sambutannya di seminar “Pembangunan Wilayah Pesisir dan Lautan Berbasis Inovasi Untuk Peningkatan Daya Saing dan Pertumbuhan Ekonomi Berkualitas Secara Berkelanjutan Menuju Provinsi Bengkulu Yang Maju, Sejahtera dan Mandiri", di Gedung Serbaguna, Pemprov Bengkulu, Rabu (16/10/2019).

Selain ketiga poin tadi, Rokhmin Dahuri juga menambahkan masukan lain dalam hal pembangunan sektor perikanan khususnya di Bengkulu.

"Peningkatan utilisasi perusahaan pengolahan ikan menjadi 90% dari kondisi saat ini 50-60%,  pengembangan produk-produk olahan perikanan baru (product development), penyempurnaan packaging dan distribusi produk, penjaminan kontinuitas suplai bahan baku  pemerintah harus memastikan, bahwa setiap unit industri pengolahan hasil perikanan memiliki mitra produsen serta standardisasi dan sertifikasi", terang Rokhmin Dahuri.

Sementara terkait pengembangan pariwisata bahari, Rokhmin Dahuri membaginya ke dalam 5 poin penting yakni, Revitalisasi, Pengembangan produk, pembangunan baru infrastruktur, promosi dan kapasitas kerja ASN.

"Revitalisasi semua objek dan destinasi wisata yang ada saat ini. Supaya daya tarik, daya saing, dan sustainabilitynya meningkat. Kembangkan produk, obyek, dan destinasi wisata baru (product development) yang lebih menarik, berdaya saing, efisien, dan sustainable. Contohnya tenda Mesjid Nabawi, Madinah di pantai Kota Pariaman." urai Rokhmin Dahuri.

Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan-IPB ini juga menjelaskan pentingnya pembangunan baru infrastruktur, fasilitas, dan amenitas pariwisata, promosi dan pemasaran serta Capacity building ASN dan masyarakat untuk lebih ramah terhadap wisatawan, pengunjung, dan tamu.

Sedangkan untuk konsep pengembangan daerah tepian air baik itu tepi pantai, sungai ataupun danau, Ketua Umum Masyarakat Akuakultur Indonesia ini menyebutnya sebagai “waterfront”.


"Ini adalah daerah tepi laut, bagian kota yang berbatasan dengan air, daerah pelabuhan Waterfront City/Development juga dapat diartikan suatu proses dari hasil pembangunan yang memiliki kontak visual dan fisik dengan air dan bagian dari upaya pengembangan wilayah perkotaan yang secara fisik alamnya berada dekat dengan air dimana bentuk pengembangan pembangunan wajah kota yang terjadi berorientasi ke arah perairan. Kota Pesisir atau waterfront city merupakan suatu kawasan yang terletak berbatasan dengan air dan menghadap ke laut, sungai, danau dan sejenisnya", jelas Rokhmin Dahuri masih dalam paparannya.

Pada prinsipnya Rokhmin Dahuri menjelaskan bahwa pengembangan kota tepi laut harus diperhatikan.

"Karena ini akan berdampak pada  citra Daerah, nilai Sosial, nilai ekonomi, nilai kemanusiaan, identitas dan nilai-nilai budaya lokal, daya dukung lingkungan ekologisnya", tutup Ketua Umum Gerakan Nelayan dan Tani Indonesia ini.