Rabu, 18 September 2019 - 20:34:08 WIB

SESKOAL Gelar RTD Perpektif Sosiokultural Penyelesaian Konflik Papua

Penulis : Redaksi
Kategori: TNI / POLRI - Dibaca: 220 kali


Sekolah Staf dan Komando Angkatan Laut (Seskoal) dalam hal ini  Pusat Pengkajian Maritim (Pusjianmar) Seskoal menggelar Round Table Discussion (RTD) yang dibuka Sekretaris Lembaga (Seklem) Seskoal Kolonel Laut (S) Hardiko, S.Sos., M.M. mewakili  Komandan Seskoal Laksamana Muda TNI Dr. Amarulla Octavian, S.T., M.Sc., D.E.S.D.  yang dilaksanakan di Gedung R. Soedomo Lantai 2 Pusjianmar Seskoal, Cipulir, Jakarta Selatan, Rabu (18/09).

Kegiatan dihadiri pejabat utama serta Patun Dosen Seskoal, diikuti perwakilan dari Perwira Mahasiswa Pendidikan Reguler (Dikreg) Seskoal Angkatan ke-57 TA 2019 dan Mahasiswa Universitas Indonesia serta Universitas Pertahanan dengan mendatangkan nara sumber Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan Universitas Islam Negeri Jakarta Prof. Dr. Masri Mansoer, M.Ag., dan Ketua Departemen Politik dan Perubahan Sosial Center for Strategic and International Studies Dr. Vidyandika D. Perkasa.

Pada Round Table Dicussion kali ini mengagendakan untuk berdiskusi sekaligus berbagi ide dan wawasan serta pandangan dalam perspektif sosiokultural khususnya  tentang penyelesaian konflik Papua sebagai referensi melihat fenomena konflik yang terjadi di Papua akhir-akhir ini.

Komandan Seskoal dalam sambutannya yang dibacakan Seklem Seskoal Kolonel Laut (S) Hardiko, S.Sos., M.M. mengatakan dengan mengelola dan merawat ke-Indonesia-an sebagai bangsa yang majemuk dan membangun sikap “Aku Indonesia”- Negara Berbhineka Tunggal Ika memang tidaklah mudah, bahkan seringkali dihadapkan pada isu-isu sensitive bernuansa suku, agama, ras, antar golongan (SARA), kesenjangan social, disparitas pembangunan dan lain sebagainya berdampak terhadap stabilitas nasional serta menguji sebatas mana jiwa nasionalisme.

Dengan adanya kegiatan Round Table Dicussion ini diharapkan dapat sebagai masukan dan mengakselerasi penyelesaian konflik Papua mengingat pentingnya pendekatan social budaya dalam mengelola tanah, sumber daya alam maupun sumber daya manusia di Papua, bukan hanya pendekatan militer, keamanan maupun ekonomi.