Selasa, 25 Juni 2019 - 06:07:14 WIB

Properti dan Konstruksi Bangkit di Triwulan III, Lionmesh Optimis Capai Target

Penulis : Redaksi
Kategori: EKONOMI DAN BISNIS - Dibaca: 264 kali


Kondisi pasar yang belum stabil di tahun 2018, yang diperparah dengan adanya perang dagang AS-China, menyebabkan harga baja dunia mengalami trend menurun. Kondisi ini juga mempengaruhi industri baja di Indonesia, termasuk bagi perusahaan industri jaring kawat baja las, PT Lionmesh Prima Tbk. yang harus merasakan tergerusnya keuntungan hingga 77,74 persen.

"Total penjualan bersih naik 6,98 persen menjadi Rp 240 miliar. Harga penjualan rata-rata juga juga lebih tinggi dari tahun 2017. Namun volume penjualan turun menjadi 23.587 ton. Sehingga Laba neto turun 77,74 persen menjadi Rp 2,89 miliar dibanding periode sebelumnya", kata Dirut Lionmesh, Lawer Supendi saat Public Expose di kawasan Kuningan, Jakarta, Senin (24/6).

Namun demikian Lawer tetap optimis ditahun 2019 industri properti dan konstruksi di tanah air akan menggeliat kembali.

"Industri properti dan konstruksi diprediksi akan mulai pulih kembali pada triwulan III 2019, sehingga dapat memberikan efek positif terhadap pertumbuhan usaha Perseroan", ujarnya.

Prediksi positif ini membawa Perseroan untuk optimis mampu mencapai target Laba Netto 2019 sebesar Rp 5,5 miliar.

"Ini target konservatif melihat kondisi yang ada. Kita akan usaha sekuat tenaga untuk mencapai target itu", tandas Lawer.

Bagi Deviden

Sebelumnya ditempat yang sama, Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan PT Lionmesh Prima Tbk menyetujui penggunaan keuntungan tahun buku 2018 untuk pembagian dividen tunai sebesar Rp. 5,- per saham atau total sebesar Rp. 480.000.000,-  sebelum dipotong pajak yang akan dibayarkan atas 96.000.000 saham. 

"Pemegang Saham yang berhak atas dividen tunai adalah para pemegang saham yang namanya tercatat pada Daftar 19 sampai dengan pukul 16.00 WIB. Pembayaran Dividen tunai pada tanggal 23 Juli 2019", kata Lawer.

RUPS juga menyetujui penggunaan keuntungan sebesar Rp. 100.000.000,- digunakan untuk pembentukan "Cadangan Wajib", dan sisanya sebesar Rp. 2.306.727.390,- dimasukkan sebagai laba yang ditahan.    (bud/pur)