Kamis, 23 Mei 2019 - 04:15:46 WIB

Pengamat : Pasti Akan Cooling down dan happy ending

Penulis : Redaksi
Kategori: METROPOLITAN - Dibaca: 266 kali


Meski tensi politik akan sedikit memanas pasca penetapan hasil Pemilu oleh KPU pada Senin (20/5) malam, namun diyakini hal itu tidak akan berlangsung lama.

"Seiring perjalanan waktu, tensi ketegangan politik akan terus menurun. Saya yakin akan terjadi cooling down", kata Pengamat Pertahanan dan Keamanan, Wawan Purwanto dalam diskusi politik dan keamanan bertemakan Keamanan Nasional Jelang Pengumuman KPU yang diadakan Poros Wartawan Jakarta (PWJ) di Warung Sate Pancoran, Jakarta Selatan, Selasa (21/5).

Menurut Wawan, riak-riak dalam pesta demokrasi di Indonesia, baik berupa demo penolakan maupun gugatan ke MK, adalah hal yang biasa terjadi dan tidak perlu terlalu dikhawatirkan, sejauh masih dalam koridor Undang-undang.

"Aksi-aksi serupa juga pernah terjadi pada 2014 lalu. Jadi ini merupakan hal yang lumrah dan tidak perlu dikhawatirkan", ujarnya.

Terlebih, lanjut Wawan, kedua Capres (Jokowi maupun Prabowo) adalah tokoh nasional, negarawan yang akan mengutamakan kepentingan, persatuan dan kesatuan bangsa, sehingga pasti akan menghindari terjadinya konflik horisontal yang hanya akan mengorbankan rakyat.

"Yang harus diselamatkan adalah Indonesianya. Saya yakin Pak Prabowo dan Pak Jokowi akan melunak untuk saling memahami satu dengan yang lain. Secara faktual mereka mengedepankan kepentingan dan keselamatan rakyat. Mereka tidak menginginkan benturan", imbuhnya.

Karena itu Wawan yakin pesta demokrasi ini akan berakhir dengan happy ending. "Memang ada saat kita terbelah seperti pada Pilpres ini. Tapi setelah itu harus bersatu kembali", ujarnya.

Senada dengan Wawan, Pengamat Politik Unas, Robi Nurhadi juga menilai aksi demo yang dilakukan oleh rakyat yang tidak puas dengan penyelenggaraan ataupun hasil Pemilu adalah hal yang biasa.

"Keinginan rakyat untuk menyampaikan pendapat dimuka umum dijamin oleh undang-undang. Aparat keamanan tidak boleh menghalangi atau mengekang. hak tersebut, sebaliknya harus memfasilitasi dan mengwal agar berjalan tertib dan aman", kata Robi.

"Justru jika dihalangi atau dikekang, tidak tersalurkan, dapat meledak nantinya. Ini tentu akan lebih berbahaya", pungkas Robi. (pur/jj)